ISU

7 Dec

Di tengah masyarakat yang resah dan bingung, isu bisa menjadi subur. Sebuah dugaan, sebuah penafsiran, bahkan sebuah kabar burung, bisa ditangkap sebagai sebuah kebenaran. Maka, ibarat sebuah bola salju, dia akan terus menggelinding, semakin lama semakin besar; meninggalkan jejak, tanpa orang tahu lagi bentuk aslinya.

Seperti dalam kisah ini. Asrama mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi menerima kiriman paket dari salah seorang alumnus. Paket itu berisi sekeranjang makanan khas sebuah daerah. Tentu saja disambut gembira. Bagi komunitas asrama, kiriman makanan bisa menjadi “anugerah” tersendiri.

Akan tetapi, entah karena kelamaan diperjalanan atau entah dari sananya memang sudah begitu, makanan itu agak berbau tidak sedap. Wah, bagaimana ini? Kalau dibuang jelas sayang. Dan, kok ya tidak menghargai si pengirim yang sudah bersusah payah dan berbaik hati. Tetapi kalau dimakan juga, nanti kenapa-kenapa pula; mending kalau hanya mules, lha kalau sampai harus masuk rumah sakit, bagaimana coba.

“Kita berikan saja dulu sedikit ke si Bujel, anjing Ibu asrama. Kalau si Bujel tidak kenapa-kenapa, berarti bisa kita makan,” usul seorang penghuni.

“Itu tidak berperi kebinatangan dong,” protes penghuni lain.

“Lha, orang saja banyak yang tidak berperi kemanusiaan; kok situ masih mikirin peri kebinatangan. Apa mau situ yang nyicipi?!”

Alhasil, usul diterima. Si Bujel dipanggil, lebih tepat dipaksa. Tentunya tidak atas sepengetahuan Ibu asrama.

Singkat kata, ternyata si Bujel tidak kenapa-kenapa melahap itu makanan. Anjing itu malah mengaing-ngaing minta lagi. Maka tanpa dikomando dua kali, para mahasiswa menyerbu itu makanan. Dalam waktu singkat ludes. Dan tidak terjadi apa-apa.

Malamnya, mereka mendapat kabar si Bujel mati! Bukan alang kepalang mereka kaget. Keresahan dan ketakutan lantas saja menghantui; bagaimana ini, makanan sudah masuk ke perut mereka?! Ada yang katanya mendadak pusing, malah ada juga yang lalu muntah-muntah.

Dokter segera dipanggil. Para mahasiswa yang tadi ikut makan diperiksa satu per satu. Tidak ada yang janggal. Lalu kenapa si Bujel mati? O, rupanya tergilas truk!
Maka, berhati-hatilah dengan isu. Jangan kita mengambil keputusan atas dasar isu. Terlebih, jangan pula ikut menggelindingkan isu. Salah-salah, justru kita sendiri yang tergilas.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: